Sisi Lain Kecerdasan Buatan

Banyak orang mengagumi hasil rekayasa teknologi informasi berupa _Artificial_ _Intelligence_ (AI) atau kecerdasan buatan. Meski demikian, harus diakui sehebat dan secemerlang apapun kreasi manusia pasti punya sisi lain yang bersifat tidak sempurna.

Sedikitnya ada dua kejadian yang fatal yaitu kasus bunuh diri akibat Chatbot AI.

 _Pertama_ , kematian Sophie putri dari Laura Reiley yang melakukan bunuh diri setelah berinteraksi melalui Chatbot GPT. Kejadian ini membuat New York Times menggugat  Open AI dan Microsoft karena melanggar hak cipta.

 _Kedua_ , kasus kematian Adam Raine (16) dengan cara bunuh diri setelah berinteraksi melalui Chatbot GPT. Karena itu, kedua orang tuanya Matt & Maria Raine menggugat Open AI ke Pengadilan Tinggi California dan menuduh Chatbot GPT telah mendorong putranya bunuh diri (Kamis,28/8/25).

Kedua orang tua itu menganggap bahwa kematian Adam Raine adalah _wrongful death_ kematian yang dapat dituntut secara hukum. Selain itu, mereka meyakini bahwa Chatbot GPT telah menimbulkan ketergantung an psikologis pada _user_ atau pengguna sehingga hasil atau _result_ yang dapat diprediksi dari pilihan desain yang disengaja.

Pihak tergugat yaitu Open AI tentu tidak tinggal diam. Mereka menjawab, Open AI mengarahkan pengguna mencari bantuan profesional. Intinya, sangat tergantung pada kecerdasan _user_ dalam mengunakannya. Bukan sebaliknya, ikut begitu saja tanpa sikap kritis.

Meski kejadiannya di AS, namun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi di tanah air. Ada dampak lain dari AI terhadap kesehatan mental _user_ . Ada pelajaran  _’ibrah_ dari kejadian di AS dan negeri lain seperti Inggris.

Adam Raine bunuh diri dan sudah merencanakannya sejak Januari 2025, karena menjadikan Chatbot AI sebagai “teman paling dekat” nya. Sehingga, setiap persoalan yang dihadapi selalu dikonsultasikan pada hasil rekayasa teknologi informasi itu melalui Chatbot AI. Dia meminta bantuan AI untuk menyelesaikan _home_ _work_ sekolah, mengeksplorasi musik dan komik Jepang bahkan panduan studi.

Menurut saya, ada yang hilang dari diri Adam Raine yaitu teman paling dekat secara sosiologis yaitu orang tuanya dan secara religius yaitu keyakinan agamanya pada Tuhan.

Mencermati hal itu, kekosongan pertama ialah aspek sosiologis yaitu ada baiknya kita sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia kembali mengaktifkan budaya menjadikan orang tua sebagai suri tauladan bagi anak-anaknya. Bahkan, _my_ _father is my hero_ , orang tua diperankan sebagai orang yang digugu dan ditiru. Orang tua menjadi anutan anak- anaknya. Baik ucapan, perbuatan, maupun sikap dan tingkah lakunya.

Orang tua diposisikan sangat terhormat di mata anak-anaknya, seperti dalam banyak ungkapan budaya lokal kita _mikul nduwur mendem njero_, atau _ari munjung ulah ka gunung muja ulah ka sagara munjung kudu ka indung muja kudu ka bapak_ atau _ditinggikan serantieng dimajukan selangkah_.

Bukankah semua itu adalah refleksi dari ajaran al-Qur’an yang memposisikan orang tua begitu terhormat, sehingga seolah-olah tidak ada lagi sekat pemisah dengan anaknya (QS.Luqman,31:14-15).

Mungkin perlu juga diaktifkan tradisi kenabian yang mengajarkan kita agar mau menyinari rumah- rumah tangga kita dengan _tilawah_ al-Qur’an dan salat berjamaah _nawwiru buyutakum bitilawatil qur’an wa shalatil jama’ah_, sabda Rasulullah,saw. Ada ruang berkumpul dan bertemu anak dengan orang tua. Ada momen anak merasa bagian dari hidup orang tua. Di sana anak bisa _curhat_ masalah-masalah yang dihadapi, dan orang tua dengan penuh kasih sayang mengayominya. 

Saya duga momentum itu yang tidak dipunyai keluarga Matt & Maria Raine, sehingga Adam Raine menyalurkan semua masalahnya melalui Chatbot GPT yang dalam beberapa hal memang nampak ramah dan bersahabat. Ini yang membuatnya terkesima dan mau mengikuti begitu saja arahan AI. Padahal, AI bukanlah orang tua, apalagi Tuhan (Allah,swt).

Kekosongan kedua yaitu kehampaan iman dan keyakinan _faith and belief_ terhadap adanya Tuhan (Allah,swt) sebagai _Ash-Shamad_ Tempat Meminta semua makhluk-Nya (QS.al-Ikhlas,112:2).

Bukankah Allah,swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang Ar-Rahman Ar-Rahim (QS.al-Fatihah,1: 1). Dia sungguh sangat peduli dan menyediakan Diri untuk diminta dan dimohonkan apa saja, _ud’uni astajib lakum,_ mintalah pada-Ku pasti Aku kabulkan. Harus diakui bahwa untuk ini diperlukan ketabahan, kesungguhan, keseriusan, karena tidak setiap permintaan serta merta dipenuhi Allah,swt (HR.Muslim).

Bukankah sudah tersedia saluran-saluran komunikasi dan wahana-wahana penyaluran masalah melalui salat bisa salat fardhu, sunnah rawatib, nawafil bahkan kanal-kanal religius seperti doa dan _munajat_ . Mungkin kanal dan saluran ini perlu lagi diaktifkan agar anak-anak kita tidak sangat tergantung pada Chatbot AI GPT, tetapi pada Allah,swt. Selain tentunya upaya terus menerus dan tidak kenal lelah menghidupkan dan memberdayakan kehidupan berkeimanan di rumah- rumah kita. Semoga Allah,swt menyelamatkan kita dan semua anak keturunan kita dari bencana akibat samping kecerdasan buatan. _Allah Huwa Al-Musta’an_ .

You May Also Like