Hedonisme & Asketisme

Salah satu persoalan yang nampak secara kasat mata di masyarakat kita dewasa ini ialah kecenderungan kuat sikap dan gaya hidup hedonisme.

Kata ini terambil dari kata _hedone_ dalam bahasa Yunani yang artinya kesenangan.  Jadi, hedonisme adalah _life style_ yang berfokus pada bagaimana mencari kesenangan hidup sepuas-puasnya. Gaya hidup ini tidak menyukai segala hal yang menyusahkan dan menyakitkan. Orientasi hidup maksimal senang secara fisikal.

Secara filsafat, _hedonism_ adalah ajaran atau pandangan hidup yang terfokus pada upaya mencari kesenangan secara maksimal. Padahal, tujuan hidup sesungguhnya adalah mengabdikan diri secara maksimal pada Allah,swt (QS.adz-Dzariyat,51:56).

Kesenangan menjadi tujuan hidup manusia hedonis. Karenanya, semua aktifitas diarahkan untuk meraih kesenangan. Tidak jarang, mereka karena kesenangan hidup yang dimiliki suka berperilaku pamer _flexing_ . Apabila pelakunya kebetulan pesohor, selebritis, atau pemangku kekuasaan eksekutif, legislatif atau yudikatif, dan itu ditampakkan secara transparan di muka publik melalui media massa elektronik, cetak maupun media sesial seperti : instagram, youtube, tik tok, atau lainnya bisa dimengerti dapat melukai hati dan rakyat kecil yang hidup papa dan jauh dari senang. Itu berpotensi menimbulkan konflik dan ketidaknyamanan di masyarakat atau _social chaos._

Hidup hedonistik bisa dipastikan lupa dan sering abai terhadap kebajikan,  _virtue_ . Padahal, hidup dengan selalu ingat Allah melalui _dzikr_ akan berakibat pada tumbuh kuatnya kesadaran berketuhanan, kesadaran pribadi, dan kesadaran lingkungan di mana dia tinggal (QS.al-Baqarah, 2:152).

Menjabarkan ayat itu, dulu Sunan Kalijaga berpesan agar hidup ini diisi dengan _eling lan wasphadha_ , selalu ingat Allah dan tetap waspada.

Harus diakui bahwa gaya hidup hedonistik ini ada manfaatnya seperti tidak murung, susah, dan hidup tidak bergairah. Tetapi, _mudharat_ nya jauh lebih besar lagi seperti berperilaku _tabdzir_ atau boros. Padahal, boros itu dilarang dalam al-Qur’an (QS.al-Isra,17:26-27).

Gata hidup hedonistik ini berakibat pada struktur keuangan yang tidak sehat. _Cashflow_ yang terganggu. Karena pengeluaran yang tidak terencana dan terkendali, _under control._

Yang dilakukan sebatas mengikuti apa yang diinginkan _wanted_ bukan apa yang dibutuhkan _needed_ dalam hidup. Jadi, yang dikerjakan semata-mata _ngumbar nafsu_ atau _ittiba’ asy-syahwat_. Padahal, menuruti hawa nafsu bisa dipastikan berujung pada keburukan, kejahatan bahkan kehancuran (QS.Yusuf,12:53).

Dominasi hawa nafsu, membuat iman menjadi _resesif_ sedangkan akal menjadi tidak _smart_ . Padahal, keduanya memegang peran penting dalam mengarahkan dan mengendalikan perilaku manusia. Kalau itu terjadi, maka bisa dipastikan kejahatan demi kejahatan tetap menjadi dominan. Secara filsafat sosial, hidup tanpa adanya _virtue_ bakal berujung pada ketidakstabilan masyarakat.  Itu akan berujung pada kehancuran sebagai anak bangsa, properti, wilayah teritorial dan menjadikan kita sebagai bangsa yang gagal.

Karena itu, peringatan Allah swt dalam al-Qur’an perlu mendapat perhatian lebih dari kita semua (QS.al-Isra,17:16). Karena, sudah terbukti dalam sejarah banyak bangsa yang gagal karena perilaku dan perbuatan anak negerinya seperti : Bangsa ‘Ad, Tsamud, _Ashab al-Aykah_ dan masih banyak lagi (QS.al-Isra,17:17).

Hidup tidak berlebih-lebihan atau _iqtishad_ menjadi pilihan strategis baik bagi para penyelenggara negara, ASN, pengusaha, bahkan para pesohor. Karena, terus terang, Allah swt tidak menyukau orang yang hidup berlebih-lebihan atau _al-musrifin_ (QS.al-An’am,6:141).

Demikian pula, dalam hal makanan, minuman, serta berpakaiab sepatutnya memperhatikan kesesuaian dan kesederhanaan. Karena berlebih-lebihan tidak disukai Allah,swt (QS.al-A’raf,7:31).

Kalau begitu, pilihan gaya hidup yang paling sesuai adalah hidup asketik atau _zuhud_ dalam ilmu tasawuf. Hidup asketisme ini biasa dimaknai dengan “meninggalkan” hidup ber- mewah-mewahan dan berlebihan. Memilih hidup _sa madya_ atau _via media_  sedang-sedang saja. Paham ini memandang bahwa keterikatan manusia pada kehidupan dunia seperti harta, pangkat, jabatan dan kedudukan, yang berlebih-lebihan atau _hubb ad-dunya_ dapat menjadi belenggu dan penghalang atau _barrier_ untuk bisa mencapai tujuan akhir hidup manusia _the ultimate goal_  yaitu bertemu dan berjumpa dengan Allah,swt (QS.al-Kahfi,18:110).

Ayat itu berpesan, jika ingin bertemu Allah,swt maka pilihannya adalah memperbanyak amal saleh dan tidak sekalipun berbuat syirik. Semoga Allah,swt terus melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya pada kita sekalian. Sehingga selamat hidup di dunia dan bertemu Allah,swt di surga-Nya.

You May Also Like