Terus terang, selama ini saya mungkin sebagian kita tidak pernah memikirkan secara lebih cermat tentang alam semesta. Kita disibukkan oleh begitu banyak persoalan hidup yang sifatnya kekinian. Padahal, orang lain sibuk dengan berbagai penelitian tentang alam semesta.
Misalnya, para saintis Barat mendeteksi bahwa umur alam semesta atau _universe_ adalah 33 milyar tahun. Penelitian terbaru yang dirilis 30 Juni 2025 lalu menyatakan bahwa fase kehancuran alam semesta akan berlangsung sekitar 10 milyar tahun mendatang.
Estimasi ini tentu saja bertentangan dengan estimasi semula bahwa alam semesta ini akan bertahan hingga ratusan milyar tahun ke depan atau satu _quinvigintillion_ hitungan angka dengan 78 nol di belakang.
Sedikitnya, ada dua skenario tentang alam semesta. _Pertama_ , skenario _Big_ _Freeze_, alam semesta akan terus berkembang hingga seluruh bintang kehabisan energi hingga ke titik nol. Skenario ini didukung oleh Albert Einstein. Artinya, skenario ini ber- _madzhab_ pada kekekalan alam.
Skenario _kedua_ , dikenal dengan sebutan _Big Crunch_ , ekspansi alam semesta – mengutip paham Prof.Edward Hubble bahwa alam semesta ini selalu berkembang atau _expanding universe -_ tetapi sifatnya temporer sampai dengan titik tertentu ekspansi itu berhenti dan menyusut lalu runtuh kembali menjadi _singularity_ kondisi sebelum ledakan besar atau _Big Bang Theory._
Sebetulnya, ada skenario ketiga dari Stephen Hawking yang dikenal dengan _Big Bounce_ , alam semesta atau universe itu mengalami siklus tanpa akhir. Semua materi dan informasi kata Hawking lagi, dalam alam semesta ini akan menguap sebelum skenario apapun sempat terjadi.
Dengan meneliti data dari _Dark Energy Survey_ (DES) dan _Dark Energi_ _Spectroscopic Instrument_ (DESI), para ilmuwan kosmologi menyimpulkan bahwa alam semesta akan berakhir. Artinya, pandangan ini menyatakan ketidakabadian alam semesta. Atau mengunggulkan skenario Big Crunch ketimbang Big Freeze atau Big Bounce dari Stephen Hawking.
Penelitian dan rilis yang disampaikan 30 Juni 2025 ini, menurut saya membuktikan kebenaran isi kandungan informasi al-Qur’an bahwa tidak ada yang abadi selain Allah,swt (QS.ar-Rahman,55:26-27).
Mengutip pandangan Imam Sanusi dalam kitab _Umm al-Barahin_ bahwa Allah,swt bersifat _qidam_ terdahulu, tidak berpermulaan juga _baqa_ kekal tidak berubah. Dalam ayat lain, Allah swt menegaskan bahwa alam semesta – dalam hal ini langit dan bumi – diciptakan _ila ajalin musamma_ artinya sampai batas waktu tertentu. Artinya lagi, bahwa skenario _Big Crunch_ itu lebih bisa diterima karena terkonfirmasi dalam Al-Qur’an yang kebenarannya tidak diragukan lagi (QS.al-Baqarah,2:2).
Dalam ayat lain, Allah swt menegaskan bahwa Dia,swt dalam menciptakan langit dan bumi tidaklah main-main atau _laa’ibin_. Artinya, penciptaan langit dan bumi atau alam semesta ini punya tujuan yang benar, pasti dan jelas (QS.ad-Dukhan,44:38-39).
Lalu, untuk apa Allah,swt menciptakan langit dan bumi atau alam semesta ini. Jawabannya adalah agar kita semua – manusia dan ciptaan Allah lainnya – mengisi hidup dengan memperbanyak kebajikan atau amal saleh. Itu ditegaskan Allah,swt dalam QS.al-Jatsiyah,45:22.
Mencermati pemikiran saintis Barat seperti Stephen Hawking saja tanpa bimbingan kitab suci al-Qur’an dapat membawa kita pada atmosfer pemikiran ateistik. Karena, melulu melihat sesuatu hanya sebatas materi atau semata-mata masa (QS.al-Jatsiyah,45:24).
Padahal, di balik semua yang serba materi itu ada Anti Materi. Yang berbeda dari semua yang bermateri _mukhalafatuhu lil hawadits_ , Dia-lah, Allah swt, Tuhan Semesta Alam, _Rabb al-‘Alamin_ (QS.al-Fatihah,1:2).
Tulisan ini cuma ingin berbagi informasi bahwa di balik semua yang bermateri ini ada Allah,swt. Dia-lah yang mengatur alam semesta, karenanya tunduk patuh pada-Nya adalah niscaya. Beribadah bukan maksiat atau berbuat produktif bukan kontra produktif, itulah pilihan hidup strategis. _Wa Allah al-Muwaffiq ila Aqwam ath-Thariq._