Alzheimer

Dalam dua pekan terakhir ini jagad informasi diramaikan oleh sorotan media sosial dan dunia internasional seperti dirilis oleh Ravina, pejabat Humas PBB, dan Komnas HAM terhadap pelaksanaan hak asasi manusia _human rights_ utamanya dalam hal kebebasan menyampaikan pendapat _freedom of expression_ di Indonesia.

Kita berharap, agar persoalan ini dapat segera diselesaikan secara adil dan bijaksana sesuai dengan aturan yang berlaku oleh pihak terkait karena pentingnya hidup dalam masyarakat demokrasi kontemporer.

Dalam Islam, pentingnya semua pihak menghargai hak hidup setiap makhluk ciptaan Allah,swt atau _haq al-hayah_ kata para ilmuwan. Karena memuliakan ciptaan Allah pada hakekatnya sama dengan memuliakan Penciptanya (QS.al-Baqarah, 2:21 dan QS.al-Isra,17:70)(Lihat juga :  Prof.Dr. Mustafa Husni as-Siba’i dalam _Isytiraqiyyat_ _al-Islam_ , Damaskus-Syria, 1970).

Hak untuk hidup lainnya adalah perlunya perlindungan kesehatan masyarakat luas dari ancaman penyakit seperti Alzheimer. Penyakit ini menimbulkan kerusakan mental progresif dikenal dengan _demensia_ . Biasanya terjadi pada akhir usia paruh baya.

Tanda-tanda klinis penyakit ini berupa kehilangan ingatan, kebingungan, dan disorientasi. Sedang tanda patologisnya berupa degenerasi hingga kehilangan _neuron_ .

Data-data statistik menunjukkan bahwa penyakit ini punya _trend_ dan proyeksi meningkat. Misalnya, tahun 2016 (1,2 juta), 2030 (2), dan 2050 (4).

Melihat gejala sosial medikal seperti itu, intinya adalah pentingnya menjaga kesehatan otak manusia. Karena organ ini merupakan  bagian vital dalam hidup manusia. Lalu, apa solusi dan rekomendasi yang diajukan Islam menyikapi realitas demikian.

Allah,swt dalam hal ini Islam dengan kitab suci al-Qur’an yang didalamnya menghimpun banyak jawaban atas setiap masalah yang dihadapi manusia (QS.Thaha,20:2).

Jawaban al-Qur’an terhadap potensi _demensia_ yang diawali dengan Alzheimer antara lain : _tilawat_ al-Qur’an, _zikr_ Allah, salat, doa, _munajat_ serta tidak meminum minuman keras _khamr_ dalam segala bentuknya. 

Membaca atau _tilawat_ al-Qur’an disamping membuat kita hidup dalam kesadaran berketuhanan yang tinggi. Al-Qur’an juga dapat menjadi obat atau _syifa_ yang menyembuhkan penyakit hati yang bersifat psikikal. Ada penelitian disertasi yang meneliti kitab _Ath-Thib_ _an-Nabawi_ yang menyebut juga dapat menjadi obat penyakit fisikal (QS.al-Isra,17:82).

Itu sebabnya bisa dimengerti mengapa disunnahkan membaca al-Qur’an dalam salat subuh itu diprioritaskan panjang karena di samping disaksikan malaikat (QS.al-Isra,17:78) juga dapat menjadi obat atau _tombo ati_ kata wali songo yang mengutip pandangan sufistik dari Syaikh Abdullah al-Anthaky,rhm.

Mengingat Allah,swt atau _dzikr_ punya landasan kuat dalam al-Qur’an. Amal ini diperintah langsung oleh Allah,swt pada kita semua dalam firman-Nya, _yaa ayyuhal ladziina aamanudzkurullah dzikran katsiran_ Wahai orang yang beriman berdzikirlah pada Allah sebanyak-banyaknya. Bahkan, dilanjutkan dengan _wa sabbihuuhu bukratan wa ashilan_ Dan sucikanlah Dia dengan bertasbih baik pagi maupun petang (Lihat juga QS.al-Baqarah,2:152).

Para ulama _ushul fiqh_ mengatakan bahwa di balik setiap perintah Allah selalu ada manfaat besar bagi manusia. Begitu juga dengan _dzikir_ atau ingat Allah atau istilah Sunan Kalijaga _eling lan wasphadha_ ingat Allah dan selalu dalam keadaan waspada sadar diri.

Selain itu, pentingnya salat, doa, _munajat_ dan sabar dalam keseharian kita menjadi senjata ampuh untuk bisa hidup bahagia ‘ _isyatan hani’atan_ (QS.al-Baqarah,2:153).

Al-Qur’an sangat peduli pada kesehatan otak dan mental manusia. Salah satu bentuk kepeduliaan itu ialah larangan meminum minuman keras, _innamal khamru wal maysiru wal anshabu wal azlamu rijsun min amalisy syayathan_ Ayat itu berpesan antara lain agar kita mau menjauhkan diri dari minuman keras dan judi. Setiap larangan dalam al-Qur’an, kata ulama _ushul_ , pasti menimbulkan _mudharat_ bagi manusia bila dilakukan. Sebaliknya, menjauhi larangan Allah akan membuat hidup ini _mashlahat_ .

Kita bersyukur punya al-Qur’an dan menjadikan nya sebagai pedoman dan petunjuk _hudan lil muttaqin_ (QS.al-Baqarah,2: 2). Karena kitab suci terakhir itu memberi solusi _a part of solution_ bagi problema hidup manusia. Ujungnya adalah menciptakan kualitas hidup yang baik bahkan _excellent_ . Jadilah yang terbaik dalam banyak hal seperti dicontohkan Rasululkah,saw.

You May Also Like