Merawat Perdamaian Dunia

Ada yang menarik dari pidato dua pemimpin negara di depan Sidang Umum PBB semalam. Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat yang bangga atas keberhasilannya meredam perang dunia di tujuh belahan bumi, dan Presiden Prabowo Subianto yang siap mengerahkan 20.000 anak bangsa sebagai pasukan perdamaian di banyak belahan dunia seperti : Ukraina, Sudan, Lybia dan Gaza.

Dari kedua pidato itu, ada semangat yang sama yang hendak dibangun yaitu sama-sama merawat perdamaian dunia. Keduanya, sama-sama orang beragama. Yang satu Nasrani, sedang lainnya Islam.

Bedanya, Trump mendukung Israel sedang Prabowo mendukung Palestina merdeka. Bukan hanya Presiden dan bangsa Indonesia bahkan ada 153 negara dari 193 negara anggota PBB yang mendukung kemerdekaan Palestina. Artinya, lebih kurang 79 % negara di dunia menghendaki kemerdekaan bagi bangsa dan negara Palestina. Makna lain ialah mayoritas negara di dunia menghendaki adanya kehidupan yang damai di kawasan Timur Tengah dan belahan bumi lainnya.

Dari dua opsi dalam menghadapi problematika hubungan Israel dan Palestina ini yaitu _one state_ _solution_ atau solusi satu negara dan _two state_ _solution_ atau solusi dua negara. Kecenderungan dunia adalah _two state_ _solution_ artinya Palestina harus diberi haknya untuk menjadi negara merdeka. Sementara, Israel tetap diberi hak sebagai negara. Maknanya, adanya kehidupan damai tercipta di kawasan Timur Tengah. Palestina dan Israel dapat hidup berdampingan sebagai dua negara tetangga.

Sikap dan pengakuan _two_ _state solution_ itu bukan berarti kita melupakan kekejaman Israel yang telah melakukan genosida di Gaza dan wilayah lainnya. Pelakunya harus dihukum sebagai penjahat perang, seperti telah ditetapkan oleh Mahkamah Internasional.

Saudara-saudara kita di Gaza yang wafat, sakit, dan masih hidup harus diapresiasi. Mengutip pandangan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani,rhm (1372- 1449M) dalam _Badzl al-Ma’un fi Fadhl ath-Tha’un_ kita menganalogikan mereka yang mati karena kezaliman Israel di Gaza dan lainnya sebagai mati _syahid_ , yang sakit dapat ampunan Allah,swt sedang yang masih hidup sebagai _mujahid fi sabil_ Allah.

Visi hidup damai yang digaungkan Presiden Prabowo bukanlah hal yang baru tetapi memang sejalan dengan napas dan semangat yang dikandung dalam _Preambule_ Konstitusi Negara Republik Indonesia (Alinea Pertama UUD 1945). Kemerdekaan adalah hak bangsa Palestina. Apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza dan lainnya tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Hidup damai juga dikenal secara baik dalam sistem ajaran Islam, seperti dalam QS.al-Baqarah,2:208, kata _as-Silm_ dalam ayat itu oleh sebagian _mufassir_ diartikan sebagai hidup dalam kedamaian. Islam adalah agama yang mengedepankan kedamaian.

Hidup damai juga dikategorikan sama dengan _ishlah_. Ada tujuh ayat dalam al-Qur’an yang berbicara soal _ishlah_ itu dalam berbagai bentuknya (QS.al-Baqarah,220 dan 228 ; an-Nisa, 34 dan 113 ; Hud,87 ; al-A’raf, 55 dan 84). Banyaknya ayat yang berbicara tentang kedamaian mengindikasikan bahwa Islam pada hakekatnya cinta damai. Bersamaan dengan itu, Islam sangat mengutuk segala bentuk kezaliman seperti yang dilakukan Israel pada rakyat Gaza.

Kita berharap, pertemuan tingkat tinggi para pemimpin negara di dunia yang kini sedang berlangsung di PBB, New York, dapat menghasilkan kehidupan damai secara global. Bukan saja sesuai dengan nilai-luhur _qur’ani_ tetapi juga karena hidup dalam kedamaian adalah bagian dari kebutuhan asasi kita. Bukankah, salah satu syarat dapat diwujudkannya ibadah pada Allah,swt adanya suasana aman dan tercukupinya kebutuhan hidup (QS.Quraisy,106:4).

Allah-lah Pemberi rasa aman dan Pencukup kebutuhan kita semua. Semoga Allah,swt mewujudkan semua harapan ini. Kepada-Nya kita gantungkan harapan ini.

You May Also Like