Masjid Al-Haram

Semua orang tahu, ada

masjid terbesar di dunia, itulah masjid yang terletak di pusat kota Mekah, Al-Masjid al-Haram (QS.al-Isra,1).

Bukan cuma besar secara fisikal, tetapi juga punya kebesaran karena kualitas dan isi religiositas dan kuatnya makna historikal yang melekat pada zatnya.

Dari sisi religiositas, disamping penyebutannya secara eksplisit dalam awal surah Al-Isra, masjid ini juga mengandung keutamaan karena seperti disabdakan Rasulullah,saw dalam hadits sahih, siapa saja yang salat di masjid itu diberikan _reward_ balasan dan ganjaran Allah,swt lebih baik dari seratus ribu kali salat di tempat lain ( _shalatun fi al-masjid al-haram khayrun min mi’ati alfi shalatin fima_ _siwahu_ ).

Para ulama hadits menjelaskan bahwa keutamaan itu tidak terbatas hanya pada salat tetapi meliputi semua bentuk kebajikan dan amal saleh seperti tawaf, tilawah, sadaqah, inseminasi ilmu, dan semua yang dikenal sebagai _ma’ruf_ baik dalam Islam.

Karena itu, kata Imam Al-Mundziri dalam kitab _At-Targhib wa Tarhib_ mendorong kita semua untuk “mumpung” berada di Mekah memanfaatkan kesempatan mahal dan langka itu untuk memperbanyak amal saleh. Kalau orang Barat ber- _falsafah_ waktu adalah uang, maka kita juga punya falsafah waktu adalah ibadah (QS.adz-Dzariyat,56).

Kalau kita hitung secara matematika, umur kita misalnya seratus tahun dibandingkan di akhirat tidak terhingga _unlimited_ maka hasilnya nol atau tidak signifikan. Artinya, hidup di dunia dibandingkan di akhirat tidak bermakna atau _unsignificance_. Padahal, Islam diturunkan untuk membawa kita agar hidup ini bermakna. Caranya, ialah merubah dan mengubah seratus tahun menjadi tidak terhingga. Itulah, salah satu makna dari _statement_ kita kala salat _inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin_, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah _Rabb al-‘Alamin._

Makna religius lain dari masjid terbesar di dunia itu ialah adanya _Al-Ka’bah al-Musyarrafah_, terkadang Allah,swt menyebutnya _Al-Bayt al-‘Atiq_, atau Rumah Tua.

Dikatakan rumah tua, karena dibangun lebih kurang empat ribu tahun silam oleh Nabi Ibrahim,as dibantu oleh Nabi Ismail,as dipandu oleh Malaikat Jibril,as _wa idz bawwa’na Ibrahiima makanal bayt_.

Dalam kitab _Akhbaru Makkah_ sesungguhnya Ka’bah itu sudah ada sejak Nabi Adam,as diturunkan ke dunia. Namun kala banjir bandang dahsyat zaman Nabi Nuh,as, rumah tempat ibadah manusia itu diangkat ke langit dan ditempatkan di _Bayt al-Ma’mur_.

Karena itu, menugaskan Nabi Ibrahim,as untuk membangun kembali rumah itu seperti yang kita saksikan sekarang. Keutamaan Ka’bah itu juga karena adanya _Al-Hajar_ _al-Aswad_ atau _the Black Stone_ Batu Hitam yang diyakini diturunkan dari surga. Karenanya, meskipun sulit meraih dan menciumnya maka sebagai gantinya dilakukan _istilam_ setiap kali kita memulai tawaf. 

Dalam hadits sahih dikatakan bahwa nanti di hari kiamat, Ka’bah akan menjadi saksi bagi siapa yang tawaf mengelilinginya. Bahkan ,seorang sufi masyhur Syaikh Jalaluddin Rumi dapat _hulul_ dan _syuhud_ kala mengitari Ka’bah yang mulia.

Silakan, mumpung sedang berada di Mekah, manfaatkan kehadiran di kota suci itu untuk memperbanyak ibadah, tilawah, doa dan munajat. _Allah Huwa Asy-Syakur_ , Allah akan membalas semua kebaikan kita.

You May Also Like